Top Ad unit 728 × 90

Terkini

recents

Pengantar Belajar Ilmu Mantiq (Logika)

Oleh: Wahyudi Rahman*.

“Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya?”

Kita buka tulisan kecil ini dengan sebuah pertanyaan klasik yang akan terus muncul hingga punahnya manusia di dalam tatanan surya ini, pertanyaan yang sangat sering terlontar ataupun dilontarkan, pertanyaan yang masyhur bukan hanya dikalangan akademisi modern saja tapi sudah masyhur dikalangan pemikir pemikir yunani. Nah, kembali ke pertanyaan kita tadi, apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya?. 

Jika kita telusuri mulai dari masa yunani hingga saat ini, kita akan mendapati,bahwa sebagian besar akan menjawab bahwa yang membedakan manusia dengan yang lainnya adalah akal, bukan begitu? Ya, Akal lah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Namun apakah jawaban ini cukup? Bukankah akan menimbulkan banyak pertanyaan baru, semisal Akal yang bagaimana?. Apakah hewan tidak mempunyai Akal? Kalau tidak lalu bagaimana bisa kerbau membedakan mana rumput yang cocok dimakan dan mana yang tidak? Oh kalau ada yang menyanggah dengan jawaban itu kan, semacam insting, naluri dan semacamnya. Lalu bagaimana dengan Hudhud? Sejenis burung di zaman Sulaiman, yang mana ia bisa tahu kalau ada daerah yang bernama Saba’, lalu penduduknya diperintah seorang perempuan serta semuanya menyembah matahari, nah bagaimana seekor burung bisa memperoleh informasi seperti ini?, lalu mengolah informasi itu serta bisa menyampaikan pada Raja Sulaiman? Bukankah itu membutuhkan Akal? Untuk mengolah informasi seperti itu.

Lalu jawaban yang tepat apa? Jawabannya tetap Akal, namun Akal yang mampu mengolah data serta informasi lebih banyak, mampu memecahkan masalah masalah yang ada, mampu mencetuskan perubahan serta inovasi inovasi yang terbaru, mampu mengambil pelajaran dari yang lalu dan menyusun langkah untuk kedepannya, mampu mencari, meneliti, menyusun serta menyampaikan apapun yang terlintas didalamnya, pendeknya, akal yang mampu berfikir. Ya, berfikir yang bukan dalam artian sempit yakni pergerakan akal saja, tapi berfikir yang dimaksud adalah, berfikir yang mampu mengerjakan apa yang kita sebutkan sebelum ini. Oleh karena itu tak heran jika ada yang membagi kedalam dua macam, akal pikiran manusia itu, berfikir biasa dan berfikir lebih dari biasa, maksudnya apa? Berfikir biasa adalah ketika manusia hanya memikirkan hal hal biasa saja dalam kehidupannya, bagaimana ia bisa hidup hari ini, makan apa dan bagaimana agar nyenyak tidur malam hari, sedang yang dimaksud dengan berfikir lebih dari biasanya adalah, ketika manusia memikirkan hal hal lebih dari biasanya, semisal kenapa ia bisa ada didunia? Dari mana asalnya? Dan hendak kemana setelah tidak berada didunia ini lagi. Atau semisal mengapa buah yang jatuh itu harus kebawah? Seperti yang dialami oleh Newton, hingga ketika Newton memikirkan itu dan memecahkannya muncullah Teori Newton, yang kita kenal dengan gaya gravitasi, atau seperti ketika Archimedes berteriak “eureka” ketika menyadari bahwa massa jenis benda menjadi berbeda ketika berada didalam air. Nah dari macam yang kedua inilah, tumbuh berbagai ilmu, berbagai pemikiran pemikiran jenius dan brilliant, lahir berbagai inovasi, muncul penemuan penemuan dan sebagainya, maka inilah yang membedakan kita, manusia dengan yang lainnya. Kita mampu untuk mencapai hal-hal itu,

“Lantas, jikalau memang akal yang merupakan keistimewaan kita, apakah semua manusia sama dalam pola pikirnya? samakah mereka dalam metode atau dalam menggunakan akal pemikiran?” 

Jawabanya sudah tentu "Tidak", meski hidup disatu bumi dan diterangi satu matahari, pola pikir manusia berbeda. Meski rambut sama hitam, metode serta penggunaan akal bagi setiap manusia sangat berbeda satu sama lainnya. Ketidak samaan ini didasari oleh berbedanya manusia dalam tabiat,lingkungan,pendidikan serta keadaannya. Nah dengan ketidak samaan ini, tentu akan timbul berbagai pendapat yang berlainan hingga bertentangan, terjadi perselisihan faham bahkan penyelewengan. Demi menanggapi hal seperti ini, mulailah para tokoh, pemikir serta ilmuwan untuk membuat sebuah acuan atau semacam panduan yang mengatur, mengarahkan serta membimbing manusia agar bisa berfikir teratur dan tidak serampangan, layaknya sebuah kaedah yang mengikat serta menjelaskan langkah langkah yang lebih sistematis dalam mengambil kesimpulan. 
Acuan atau panduan ini sudah lama sekali berkembang dikalangan pemikir, ilmuwan serta masyarakat lainnya, berkembang dan terus berkembang hingga sampai seorang filosof yunani yang bernama Aristoteles menertibkan dan menyusun kembali kaedah kaedah tersebut kedalam sebuah disiplin ilmu, yang masyhur dengan nama Ilmu Mantiq atau Ilmu Logika, nah disini harus kita bawahi bahwa Aristoteles bukanlah orang yang pertama kali menemukan ilmu mantiq atau logika ini, namun orang yang pertama kali menyusun kaedah-kaedah ilmu mantiq kedalam sebuah disiplin ilmu.

“Lalu, bagaimana tanggapan Islam terhadap ilmu mantiq?”

Islam sebagai agama samawi, bersumber dari wahyu ilahi, tidak pernah sedikitpun didalam ajarannya menghalangi manusia untuk berfikir, bahkan islam menyuruh manusia untuk berfikir, betapa sering kita temukan didalam Al-Quran maupun Sunnah anjuran untuk berfikir, bahkan dalam penetapan wahdaniyatullah atau wujudullah, Islam juga berdalil melalui dalil ‘aqli atau logika, Nah oleh karena itu, meski ada perbedaan pendapat antar ulama islam dalam menerima ilmu mantiq ini seperti imam nawawi dan ibnu sholah yang mengharamkan dan ada juga sebagian besar lainnya yang “mewajibkan” untuk dipelajari. Namun pendapat yang lebih masyhur dikalangan ulama adalah ilmu mantiq ini boleh dipelajari asal masih dalam koridor Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana diterangkan didalam kitab Matan Sulam al Munawraq.

Memang, jika ditelusuri lebih jauh, ilmu mantiq sangat penting sekali untuk dipelajari, bisa dilihat dari betapa pentingnya bab ta’rif (pendefenisian) yang mana ini dipelajari dalam ilmu mantiq namun berguna bagi disiplin ilmu lainnya atau semisal bab qiyas yang mana sangat berguna sekali dalam menarik kesimpulan. Ilmu mantiq juga bisa menjadi salah satu benteng pertahanan ketika menghadapi syubhat-syubhat atau keragu-raguan yang dilemparkan orientalis untuk menggoyahkan aqidah umat, karna dengan ilmu mantiq kita akan lebih ter-arah dan sistematis dalam menyusun dalil dalil serta bantahan bantahan kita. Sebagaimana yang dilakukan oleh ulama ulama kita terdahulu.

___________________
*Mahasiswa Tingkat III Fakultas Ushuluddhin, Jurusan Aqidah Falsafat  Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Pengantar Belajar Ilmu Mantiq (Logika) Reviewed by Dangau Modern on 2:23 PM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Menara Azhar © 2014 - 2015
Design by Dangau Modern | Rouwaq Azhar : MenaraAzhar.Com

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.