Top Ad unit 728 × 90

Terkini

recents

Tiga Golongan Manusia Dalam Memandang Kehidupan

Tiga Golongan Manusia Dalam Memandang Kehidupan
Oleh: Wahyudi Rahman*.

Seiring perkembangan zaman yang  pesat saat ini, perkembangan teknologi yang sangat maju, berbagai fasilitas canggih telah ditemukan, hingga mempermudah kita untuk menjalani kehidupan. Namun disis lain,  kita lihat kebanyakan dari manusia  terkhusus umat muslim saat ini, mengalami yang namanya degradasi persepsi dalam mehami arti hidup ini, mengalami pergeseran arti dalam memahami hakikat hidup ini.

Tak jarang kita temukan, ada yang memandang hidup ini hanya sebatas rentetan pertumbuhan biologis tanpa makna, lahir kedunia, tumbuh menjadi balita, lalu perlahan menjadi anak kecil menginjak usia remaja, dewasa, kerja, punya anak dan istri lalu mati. Atau ada juga yang menganggap hidup hanya di dunia saja hingga menjadikan kehidupan sebagai lahan kompetisi duniawi, berlomba lomba memperkaya diri, menghalalkan segala cara, memakai hukum rimba, yang lemah akan kalah,yang lambat akan disikat,  hanya yang garang yang akan  menang.

Sudah banyak yang mengalami pergeseran persepsi seperti ini, padahal Allah swt berfirman :

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ( الذاريات : 56 )

Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaku” (QS: Azzariyat: 56)

Tentu ayat ini sering kita dengar dan tentu dengan jelas kita memahami bahwa kita diciptakan di dunia ini dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Namun kenyataan yang kita lihat sekarang bagaimana? Jarang sekali kita temukan ketika ditanya untuk apa hidup di dunia ini, maka jawabannya adalah untuk beribadah kepada Allah.

Suatu kali Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata, bahwa manusia dalam memahami arti dan menjalankan  kehidupannya dimuka bumi ini terbagi menjadi tiga macam:

  1. Manusia yang bukan manusia
  2. Manusia setengah manusia
  3. Manusia yang sebenar benar manusia

Golongan Pertama: Manusia yang Bukan Manusia

Apa yang dimaksud dengan golongan atau macam yang pertama ini ?

Maksudnya adalah manusia yang hanya memandang dan menjalani kehidupan ini sebatas proses alamiyah saja. Bak rumput yang tumbuh. Mulai dari kecil lalu berkembang, hijau lalu menguning kering dan mati. Sebagaimana yang kita sebutkan tadi, memandang kehidupan ini sebatas proses biologis saja. Tak peduli dengan agama bahkan mengingkari agama itu sendiri. Seperti pemikiran atheis dan sebagainya yang menganggap bahwa hidup di dunia ini hanya  sebatas hidup, lalu mengerjakan apapun dengan sesuka hatinya. Keluar dari batas norma- norma kehidupan akhlak maupun sosial.

Orang orang seperti ini, sering kita temukan, bahkan mungkin ada disekitar kita. Menganggap bahwa hidup hanya di dunia saja, tak ada hari pembalasan. Menganggap bahwa agama hanyalah sebatas produk pemikiran, Nauzubillah Min Zalik (Kita berlindung Kepada Allah dari yang demikian itu).

Orang orang seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dalam surah Al A’raf ayat 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ (الأعراف: 179)

Artinya : Dan sungguh kami akan isi Neraka Jahannam itu banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati namun tak dipergunakannya (memahami ayat ayat allah), mereka memiliki mata namun tak digunakan untuk melihat (tanda kekuasaan allah), mereka mempunyai telinga namun tak digunakan untuk mendengar (ayat ayat allah), mereka itu layaknya hewan ternak bahkan lebih sesat lagi, mereka itulah orang orang yang lengah.

Di dalam ayat ini allah menjelaskan bahwa ketika manusia tidak mempergunakan apa yang diberi oleh Allah berupa hati mata dan telinga untuk memahami ayat- ayat Allah agar beiman dan beribadah kepadanya, maka mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat dari itu. Buya Hamka, pengarang tafsir Al-Azhar pernah menyindir orang- orang yang seperti ini dengan sindirin yang sangat tajam.

“Kalau sekedar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja”
Kalimat ini memang singkat namun sangat tajam artinya, bukankah memang betul?. Kalau sekedar hidup saja, maka kera dirimba juga hidup, lalu apa bedanya? Kalau sekedar kerja, kerbau juga bekerja di sawah, lalu apa ubahnya?. Maka dari pada itu, mari kita berdoa dan berusaha hindarkan diri kita dari pemikiran seperti ini, pemikiran bahwa hidup hanya sebatas hidup atau proses biologis saja.

Golongan yang Kedua: Manusia Setengah Manusia

Golongan ini adalah golongan yang sudah mulai memahami bahwa hidup ini tak sebatas hidup. Bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan mesti serta harus disiapakan bekal untuk perjalanan akhirat nanti. Namun yang disayangkan adalah mereka memisahkan antara urusan duniawi dengan agama. Agama hanya sebatas ibadah ditempat ibadah, tapi diluar itu tidak. Islam hanya shalat dan puasa serta zakat diluar itu tidak, padahal kenyataannya islam adalah agama yang mengatur seluruh lini kehidupan. Orang-orang ini masih setengah hati dalam beragama, mangambil sebagian dan meninggalakan sebagian lainnya.

Betapa banyak kita lihat sekarang ini, banyak yang mengatakan bahwa ia seorang muslim, namun hanya sebatas islam ktp, hanya sebatas label. Dalam praktek sehari- hari bagaimana,? Shalat memang ada, tapi masih suka bergunjing mislanya atau masih suka berdusta atau lainnya. Padahal islam melarang akhlak jelek seperti itu. Masih banyak kita lihat hal- hal seperti ini, memisahkan urusan dunia dengan urusan agama, tak hanya orang dewasa bahkan remaja -remaja kita sudah mulai menganut paham seperti ini, pemahaman seperti inilah yang disebut dengan pemahaman sekuler.

Patut kita sadari bersama, bahwa agama islam itu adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Islam tak hanya sebatas mesjid, islam juga mengatur bagaimana hidup bersosial, islam juga mengatur bagaimana dalam berinteraksi mengatur perekonomian bahkan islam juga mengatur bagaimana sikap dalam berbangsa dan bernegera. Banyak sudah para ulama mengarang buku, kitab-kitab tentang hal ini, maka jangan tinggalkan islam saat kita keluar dari mesjid, bawa selalu agama itu dalam setiap keadaan kita. Karena memang kita butuh untuk diatur oleh agama, sebab jika seandainya kita tidak diatur agama maka yang hawa nafsulah yang akan mengatur kita.

Oleh karena itu Buya Hamka juga pernah berkata, “ Agama itu bak tali kekang untuk bendi (delman/dokar)". Coba kita renungkan bersama saat ini, bukankah pemikiran ini sudah banyak tersebar saat ini?. Pelajar misalnya, belajar hanya untuk mendapat nilai tinggi yang nantinya akan mempermulus jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang banyak. Jarang kita temukan pelajar yang belajar memang untuk menambah ilmu dan bisa memperbaiki akhlak atau hidupnya dengan ilmu itu, tak sekadar untuk mencari kerja.

Namun juga bukan berarti, kita harus meninggalkan urusan dunia sepenuhnya. Yang dimaksud disini adalah ketika kita tak mampu menyeimbangkan antara urusan dunia dengan akhirat, hanya mengejar dunia saja dan seolah agama hanya menjadi pelarian ketika ada bencana dan musibah. Baru ini yang dimaksud dengan manusia setengah manusia, karena pada hakikatnya islam menyuruh kita agar seimbang dalam mengejar urusan dunia dan akhirat. 

Golongan yang Ketiga: Manusia yang Sebenar-benar Manusia

Mereka adalah orang orang yang memahami bahwa hidup ini bukan hanya sekedar hidup saja, namun untuk beribadah kepada allah, tak memisahkan urusan duniawi dengan urusan ukhrawim, bisa menyeimbangkan keduanya, beragama dengan sebenar benar beragama, menjadi seorang muslim yang kaffah. Beribadah tak hanya ditempat ibadah saja, namun di luar itu tetap dipegang erat agama didalam jiwa  golongan ini adalah golongan yang islam tak hanya mejadi label tapi memang sudah mendarah daging dalam dirinya.

Oleh karena itu orang orang inilah yang akan menjalani hidupnya dengan tenang dan nyaman. Bagaimana tidak ? Ketika kita menjalani agama dengan sebenar benarnta tentu tak akan kita temukan masalah krimiminalitas atau pun kerusakan moral, karena sejatinya kerusakan moral atau kriminalitas yang terjadi merupakan akibat agama tak dijalankan dengan sebenarnya, hanya mengejar dunia dan lupa dengan akhirat.

Mari kita renungkan bersama saat ini, kita masuk dalam golongan yang keberapa? Mari kita berdoa kepada allah agar menjadikan kita kedalam golongan orang orang yang ketiga, manusia yang sebenar benar manusia.

Wallahu A’lam Bisshawaab.

 ___________________
*Mahasiswa Tingkat III Fakultas Ushuluddhin, Jurusan Aqidah Falsafat  Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Tiga Golongan Manusia Dalam Memandang Kehidupan Reviewed by Dangau Modern on 2:25 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Menara Azhar © 2014 - 2015
Design by Dangau Modern | Rouwaq Azhar : MenaraAzhar.Com

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.